Headlines News :

KEMAJUAN KECAMATAN DI TANGAN MASYARAKAT PBL. Aangedryf deur Blogger.

">Index »'); document.write('

?max-results=10">Label 2

');
  • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

Totale bladsykyke

NIAT PUASA ESOK

NIAT PUASA ESOK

MARICA TV

Cermin Hati


“Al mukminu mir’atu akhihi”
...Seorang mukmin adalah cermin bagi Saudaranya… 

(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Adakah di antara antum yang pernah merasa menyesal telah mengenal seseorang? Menyesal bahwa seseorang pernah hadir dalam kehidupan antum. Semoga tidak pernah.

Jika boleh berbagi pengalaman, yang saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya. Bertemu, berkenalan, dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Yang seandainya jumlahnya seratus. Maka, akan ada seratus kombinasi perilaku dan karakter yang akan kita hadapi. Jika jumlahnya naik berlipat menjadi seribu maka kombinasi perilaku dan karakternya pun turut merangkak naik. Kemudian, efek selanjutnya yang muncul adalah peluang timbulnya konflik dan gesekan pun makin terbuka lebar. Gesekan, tumbukan atau bahkan hantaman yang memicu keretakan adalah hal yang lumrah, sangat lumrah. Yang akan menjadikannya tidak lumrah adalah cara kita memandang masalah. Cara kita memandang dengan siapa bermasalah. Dan tentu, cara kita menyelesaikan masalah.

Pernah ada sebuah nama yang saya kenal. Kami saling akrab sebab diwashilahi oleh kebaikan. Bersama dengan berlalunya waktu kami saling dekat. Saling memperhatikan. Saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan. Saling membantu dan meringankan beban. Bukan tidak pernah ada kesalahpahaman, pastinya ada. Dengan cara yang baik, semuanya pun terselesaikan. Selayaknya sebuah kurva pastinya ada titik puncak. Puncak keakraban dan puncak ketegangan. Dan suatu ketika, datang juga masa bagi puncak kurva yang kedua. Pyyaaaaaarrr… hancurlah salah satu kaca kebaikan tempat saya biasa bercermin. Seketika dunia saya serasa runtuh. Rasa kepercayaan yang sekian lama dibina musnah begitu saja. Rasa sesal pun muncul... jika saja saya tidak pernah mengenalnya. Astaghfirullah... ukhuwah kami hancur, sayapun jadi futur. 

Tiba- tiba diantara jeda waktu yang ada, saya pun teringat apa yang sudah saya baca di buku Dalam Dekapan Ukhuwah tulisan Salim A. Fillah.

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali: “jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu kupu yang terbang menari
Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji..

Saat membaca rangkaian kata beliau di atas, dada saya pun tergetar. Tanpa sadar, sudah ada khilaf yang telah saya lakukan. Sebab sebuah masalah, putus tali persaudaraan. Dan itu sangat bertolak belakang dengan yang diajarkan. Meski, ada egoisme dan kesombongan hati yang harus dikalahkan. Saya rasa demi cinta dan keridhaan yang Maha Tinggi. Keikhlasan hati dalam memaafkan harus tetap diupayakan.

Maka di atas itu semua, jika diizinkan saya memberi garis bawah. Karena setiap orang yang datang silih berganti dalam kehidupan kita, semuanya istimewa. Semuanya adalah cermin. Semuanya adalah guru bagi kita, karena dari merekalah kita turut belajar tentang ilmu kehidupan. Dan begitupun, saya berusaha meyakinkan hati dan diri saya. Bahwa tidak pernah ada penyesalan. [Kembang Pelangi]

Bukan Air Mata Biasa


Pernahkah Anda menangis? Saya rasa hampir setiap orang pernah mengalaminya. Air mata itu bisa jadi muncul saat kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi. Bisa jadi salah satu orang tua yang kita cintai apalagi jika keduanya meninggalkan kita selamanya. Atau mungkin suatu ketika saat pasangan kita, suami atau istri kita melangkah pergi menjauhi kita baik itu sementara atau bahkan untuk selamanya. 

Tak jarang air mata itu muncul ketika kata dan sikap orang–orang di sekeliling kita menyemaikan dan menumbuhkan luka dalam hati kita. Air mata bisa jadi menetes di sudut mata kita saat menyusuri jalan yang biasa kita lewati kita temui peminta-minta tua, anak yang menengadahkan tangan saat jam-jam di mana ia seharusnya sekolah dan sosok apapun yang menerbitkan rasa iba dalam hati kita. 

Tapi jangan salah, terkadang tanpa diundang pun air mata datang saat kita memperoleh kebahagiaan. Saat ijab qabul diucapkan. Saat seorang bayi dilahirkan. Saat wisuda kelulusan. Atau mungkin saat kita mendapat hadiah yang paling kita inginkan. Demikianlah, kesedihan dan kebahagiaan keduanya mampu menghadirkan air mata. Silih berganti.

Tapi pernahkah air mata kita menetes hanya karena menatap seseorang? Sedangkan orang tersebut bukan orang tua, suami atau istri kita. Bukan pula peminta-minta atau gelangangan yang biasa mendatangkan iba. Apalagi artis idola kita. Seorang yang mungkin tidak pernah kenal dekat. Seorang yang tangannya tak pernah kita jabat. Seseorang yang mungkin hanya bisa kita lihat dalam jarak pandang yang begitu jauh.

Itulah yang terjadi pada saya. Malam di mana jari ini saya jentikkan untuk mengetik tulisan saya ini. Entah ini sudah bilangan yang keberapa saya putar kembali video pidato “Sang Presiden Baru” yang saya simpan. Saya yakin Anda semua paham siapa yang saya maksud. Ada dua sosok yang selalu bisa dipastikan langsung menerbitkan air mata saya. Sang Presiden Baru yang penuh cinta itu dan seorang sosok lagi yang selalu ia cintai. Sosok yang selalu ia sebut dan sampaikan salam cintanya setiap kali Sang Presiden Baru melakukan kunjungan konsolidasi ke penjuru Nusantara. Sosok santun dan ramah yang membuat lidahnya tercekat sesaat saat orasinya yang pertama. Sosok santun dan ramah yang hampir selalu membuat rona wajahnya berubah. Entah Saat detik di mana kawan seiringnya itu direnggut pergi secara paksa hari Rabu kelabu itu atau bahkan ketika nama dan wajah sang kawan disebut dan ditayang kan kembali di media yang ia datangi. Setidaknya itu yang bisa saya raba saat video-video beliau diputar di depan mata. Dua sosok itulah yang tanpa saya sadar belakangan ini menggetarkan jiwa saya. Dan spontan mengalirkan air mata dan menggerakkan bibir saya untuk mengucap doa. Doa yang terindah. 

Tak hanya mereka berdua. Ada seorang lagi. Di sebuah organisasi yang saya geluti, seorang pimpinan yang saya hormati. Ia seorang lelaki dan sudah beristri. Ia seorang yang kalem, sabar dan berusaha penuh tanggung jawab untuk menggerakkan roda organisasi. Hidupnya bisa dibilang tak mudah. Kuliah, kerja dan keluarga. Semuanya harus ia jalankan dengan sempurna. Hingga sore itu, mendung di langit menggantung begitu kelabu dan hujan meluncur tanpa harus ditunggu. Deras dan makin deras. Dan saya tahu itu juga yang terjadi dalam kalbu, miliknya. Tapi Subhanallah... begitu ceria dan luwes ia memimpin rapat kala itu seakan tak terjadi apapun. Di akhir rapat beliau dan kami, rekan kerjanya saling memberi semangat. Ukhuwah terasa begitu erat. Pada sang istri yang juga sahabat saya yang sejati, saya mengatakan “Saya kagum... saya terharu... Seandainya ia seorang muslimah, pasti ia sudah saya peluk sepenuh jiwa.” Selanjutnya, airmata pun mengalir tanpa bisa ditunda.Sejak hari itu hati dan mata saya selalu berembun setiap kali bertemu dengan beliau. Sebab semangat menatap hidup dengan anggun yang sudah beliau tularkan pada saya. 

Yang selanjutnya, salah satu rekan senior saya di tempat kerja. Ia seorang wanita matang, dinamis dan dengan wajah penuh cahaya. Saat menasehati tidak pernah sekalipun bersilat lidah. Selalu jujur dan tulus apa adanya. Saat hari dan hati saya diliputi gundah sebab penuh masalah, tidur di pangkuannya menjadi obat mujarab bagi saya. Ya. Hanya tidur saja. Tanpa curhat yang banyak kata. Cukup memejamkan mata sekadarnya. Sedikit air mata. Kemudian, Ajaib... segala gundah dan kesedihan saya menguap seketika. Semangat baru pun langsung memenuhi rongga dada. Beliaulah Murobbiyah… .”Ibu dalam dakwah “ yang saya cinta sepenuh jiwa. Cinta karena Allah semata. Tak jarang, tanpa beliau sadari saya pandangi wajahnya saat saya butuh mengundang semangat agar datang. Dan ajaib… yang saya harapkan pun hadir. Semangat yang menggelora. Dan air mata haru pun mengiringi. 

Semua sosok yang saya ceritakan itu bukan keluarga. Antara saya dan mereka tidak ada ikatan darah. Tapi mengapa...?? Mengapa ada air mata...?? Begitu aneh mungkin orang memandang. Tapi inilah kami. Sebab kami percaya ikatan aqidah itu lebih kental dari pada ikatan darah. Jalinan “aneh.” Demikian Helvy Tiana Rosa menyebutnya dalam bukunya Risalah Cinta, tentang apa yang kami alami ini. Jalinan “aneh” yang hadir dalam hati-hati kami sejak kami mengenal satu kata suci yakni “dakwah.” Jalinan “aneh” yang membuat kami saling terikat. Jalinan “aneh” yang membuat kami saling memberi. Tak hanya air mata dan doa. Jalinan “aneh” yang kami harap akan abadi hinggajannah-Nya. [Kembang Pelangi]

Sebelum Menikah...


“Beruntunglah jika saat ini anti belum menikah…” kata partner kerja saya tiba-tiba.
“Lha kok begitu…??” jawab saya penuh tanya.
”Iya tentu saja... sebab terlalu banyak wowdan haaah… yang bakal anti temui sesudah menikah… itu sebabnya anti lebih beruntung punya waktu lebih lama untuk belajar dan mempersiapkan diri “ demikian partner kerja saya itu menjelaskan, ”beda dengan saya dulu saat memutuskan menikah… tak banyak persiapan mental dan ruhiyah… terlebih lagi persiapan niat… akhirnya saat di awal perjalanan pernikahan saya sering mengalami shock terapy
”Begitulah… jika tidak benar- benar menata niat sejak awal… bukan tidak mungkin bahtera rumah tangga yang telah dibina akan karam dihempas derasnya gelombang masalah,” begitu serius ia menasehati saya.

Banyak hal yang mungkin muncul dan menjadi riak-riak gelombang atau bahkan menjadi tsunami yang bakal menguji jalannya bahtera rumah tangga. Diantaranya orientasi sebelum menikah, jika disorientasi sejak awal, bisa-bisa berbahaya. Misalnya jika bagi wanita orientasi awal menikah untuk melepas beban mencari nafkah. Menikah biar ada yang ngasih biaya, tidak usah susah-susah bekerja. Sebaliknya bagi pria, saat menikah tak perlu lagi mencuci, menyetrika, atau berharap jika mau makan apapun sudah tersedia diatas meja. Lha… jika yang terjadi sebaliknya dan tidak sesuai harapan. Gaji suami yang pas-pasan, cita rasa masakan istri yang tidak karuan, cucian dan setrikaan yang menumpuk bisa jadi ladang subur penyebab pertengkaran. Belum lagi, kekurangan-kekurangan yang perlu disyukuri dan kelebihan-kelebihan yang patut diwaspadai dari pasangan yang dinikahi. Lebih pendiam, kurang cerewet, mendengkur jika tidur, malas mandi, malas dandan, pelupa akut, kebiasaan teledor atau hobi belanja yang kurang sesuai dengan anggaran bisa jadi mengundang persoalan. Ditambah kemudian, kultur dan kebiasaan dari keluarga besar pasangan kita. Mertua yang terlalu baik hingga setiap ada persoalan suami-istri selalu mengambil peran untuk membantu menyelesaikan. Mereka seringkali terlalu khawatir dengan sang anak hingga setiap keperluan masih selalu saja diperhatikan. Hingga tak jarang eksistensi sang menantu jadi terabaikan. Demikian banyak hal, mulai yang sepele hingga yang serius yang bisa menjadi pemicu masalah. Yang bila kurang bijak dalam menyikapi dan menuntaskannya akan berbahaya.

Maka dari itu, sejak awal harus menata persepsi. Menikah tak hanya yang indah-indahnya saja yang merupakan nikmat. Berlelah-lelah mencari nafkah itu juga nikmat. Berusaha memberi senyum termanis di sela lelah mengurus rumah seharian adalah nikmat. Bersungguh-sungguh menerima dan memahami pasangan dengan sepenuh hati itu nikmat. Merebut hati mertua dengan simpati adalah nikmat. Menerima nasehat bijak yang mungkin menyakitkan dari mertua adalah nikmat. Sebagaimana dikatakan Salim A. Fillah, Sebab menikah adalah nikmat dan keindahan kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Sebab rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tanpa makna. Sebab menikah adalah salah satu wasilah untuk mendapat syurga, kecuali bagi yang mejadikannya sebagai fase hidup yang dilewati begitu saja.

Adalah Niat. Itulah persiapan pra nikah yang terpenting yang bisa saya dapatkan dari perbincangan saya dengan rekan kerja saya tersebut. Sebagaimana yang pernah disinggung oleh ustadz Fauzil Adhim di sebuah forum kajian, jika ada seandainya ada 8 kali pertemuan kuliah pra nikah maka hendaknya ada 6 kali pertemuan yang hanya akan membahas 1 hal saja yaitu niat. Innamal a’maalu bin niyaati wa innamaa likullimrii-in maa nawaa. Sebab berbagai macam kitab hadist menempatkan hadist tersebut hampir selalu di awal pembahasan dan menegaskan bahwa apa yang kita peroleh berdasarkan atas apa yang kita niatkan. Dan sebagaimana pengalaman berharga dari rekan kerja saya tersebut. Niat awal ketika mulai memutuskan untuk menikah itulah yang akan menjadi pondasi pijakan kita dalam bersikap dan saat mengambil keputusan penting saat datang persoalan yang genting. Niat pula yang akan menentukan apakah ada barakah di sepanjang perjalanan pernikahan yang dilalui. [Kembang Pelangi]

“Mukjizat” Kamar Tidur


Mohammad Al-Khady dalam buku Renew Your Marriage mengisahkan seorang temannya yang merasakan “mukjizat” kamar tidur. Lelaki itu bersepakat dengan istrinya untuk tidak pernah membawa masalah ke tempat tidur mereka.

“Hendaknya kita menjaga kamar tidur dari berbagai pertentangan ataupun masalah,” kata sang suami, disetujui istrinya.

Seperti halnya rumah tangga lain, rumah tangga mereka juga tidak selamanya bebas masalah. Mereka pernah bertengkar, suami pernah marah pada istri, istrinya juga pernah marah pada suami.

“Namun di kala kami memasuki kamar tidur,” lanjut sang suami, “semua pertengkaran dan marah itu sirna, seolah tak terjadi apa-apa diantara kami.”

“Pagi harinya di saat kami terbangun, kami pun sudah lupa dengan pertengkaran kami,” pungkasnya.

Anda para suami dan istri juga bisa membangun kesepakan serupa, lalu merasakan “mukjizat” yang sama. 

Satu hal yang perlu dipahami oleh suami maupun istri adalah, bahwa keluarga bahagia bukanlah keluarga tanpa masalah. Maka di dalam hati istri dan suami, keduanya menyisakan ruang untuk masalah yang mungkin timbul. Dengan adanya ruang itu, suami dan istri mampu menampung masalah yang terjadi, tidak depresi apalagi menyikapi sedikit masalah dengan bercerai. Na’udzubillah.

Bahkan keluarga Rasulullah pun pernah didera masalah. Aisyah pernah cemburu hingga membuat jatuh nampan berisi makanan dari istri lainnya yang diantar oleh pembantunya. Rasulullah juga pernah dibuat “susah” oleh istri-istrinya yang cemburu kepada Zainab binti Jahsy karena di sana Rasulullah dijamu madu. Demi “berdamai” dengan istri-istrinya itu, Rasulullah sempat mengharamkan madu untuk dirinya sendiri. Namun kemudian Allah mengingatkannya dengan menurunkan surat At-Tahrim.

Rasulullah bahkan pernah dituntut oleh istri-istrinya untuk menaikkan nafkah kepada mereka, lalu Allah member petunjuk apakah tetap dengan kezuhudan dalam keluarga Rasulullah atau diberi harta yang banyak tapi dicerai. Mereka pun memilih tetap bersama Rasulullah. 

Menyadari masalah bisa timbul, suami istri kemudian perlu mekanisme untuk menyelesaikannya. Salah satunya, dengan tidak memperlama masalah dan membuat masalah kecil segera diselesaikan. Mensterilkan kamar tidur dari masalah bisa menjadi alternatifnya. Biarkan kehangatan dan kemesraan di sana menggilas masalah-masalah itu hingga tak tersisa. Dan ternyata, cara itu bukan hanya diterapkan teman Mohammad Al-Khady.

“Apapun masalah yang kami alami,” seorang suami menuturkan, “atau berselisih dalam berbagai hal, setelah aktifitas di kamar tidur segalanya menjadi lebih baik, yang hadir kemudian adalah senyuman.”

Mengapa? Sebab di kamar tidur, kadar mawaddah bisa bertambah. Di kamar tidur, kepuasan biologis dan ketenangan psikis bisa didapatkan. Di saat seperti itu, dada semakin lapang. Jiwa makin luas menerima pasangan. Dan suami istri lebih mudah saling memaafkan.

Mungkin karena pentingnya urusan kamar tidur inilah, ia menjadi salah satu “terapi” dalam Islam jika istri melakukan pelanggaran atau durhaka. Namun, ia bukan langkah pertama, melainkan langkah berikutnya. Yakni langkah mengingatkan atau nasehat tak lagi berguna, barulah istri dibiarkan sendiri di tempat tidurnya.

Maka jika malam tiba
Berhiaslah untuknya
Bilik cinta adalah istana dua jiwa
Peraduan selaksa pesona
Hanya ada cumbu canda dan kasih mesra
Lalu biarlah ia menyapu sgala problema


Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KECAMATAN PANTAR BARAT LAUT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger